Rabu, 25 September 2019

Sepatu

Kutulis disini saja.
Tadi aku begitu terenyuh, sebenarnya gak terlalu begitu.
Hanya sedikit terenyuh.

Ya, beberapa waktu lalu dan kemaren aku memang mengeluarkan uang untuk keperluanku. Kadang kalau sedang lemah, aku anggap jumlahnya sangat besar. Namun kalau sudah berfikir ulang dan ingat Allah Maha Kuasa, Maha Kaya. Aku sendiri tersenyum.
Senyum yang entah itu apa artinya, sepele atau hanya menghibur diri.
Uang kok difikirin, rezeki Allah yang atur.
Walaupun aku kadang menggerutu "coba saja dulu jenjang ini tidak kuambil". Tapi untuk apalagi, buang buang energi. Mau tidak mau harus berusaha diselesaikan.


Si cun, sekarang dah banyak uang..........
Aku begitu terenyuh mendengarnya, namun aku hanya balas senyum tipis, tak ingin kusebut darimana uang itu kuperoleh, tak ingin kusebut yang beberapa lalu itu dapatnya darimana. Ah, aku bukan tukang ngeluh pada sembarang.
Ingin kubalas singkat, "Pak, kalau benar dah kuganti ni sepatu"

Oh.... Allah
Sepatuku masih bagus.....


Menunggu sukron sholat maghrib


F.Psikologi, 07.38

Minggu, 22 September 2019

Hutang Budi

Boleh jadi ini akan menjadi tulisan tersingkat.
Salah satu alasan saya sering menolak bantuan atau pemberian adalah menghindari rasa berhutang budi. Sampai aku pernah diingatkan agar jangan menolak pemberian orang, karena menolak rezeki.
Gak tau apakah tindakan itu salah atau tidak.
Sejatinya saya ingin tidak ada maksud pamrih dalam setiap tindakan memberi bantuan. Saya hendak mengatakan agar kita saling membantu karena rasa kemanusiaan. Boleh boleh saja kalau kita membantu orang supaya kita dibantu juga. Tapi, jangan sampai bantuan/pemberian kita itu justru diungkit-ungkit kembali oleh diri kita sendiri karena mau dianggap paling berjasa, jangan......

Mungkin engkau menganggap jasamu sudah paling besar, tapi itu hanya mungkin, bukan pasti.
Bisa jadi jugakan orang yang engkau bantu itu, tanpa engkau sadari sudah memberikan pengorbanan yang jauh lebih besar. Coba fikir ulang deh kalau mau ngungkit-ngungkit kebaikan. Lain hal kalau memang pede yaa.

Maaf, orang diam itu bukan berarti tidak tahu apa-apa, boleh jadi dia hampir tau semuanya. Orang ribut bukan juga karena semata dia gak suka, namun hendak memberikan pelajaran.
Kadang senyumnya sinis mengejek, anggaplah itu caranya untuk bilang "gak usah gitu-gitu kali".

Maaf, kayaknya kami memang perlu menegaskan,
Kami hadir untuk membantu, bukan dibantu.
Sebisa mungkin akan kami bantu, ya kalau ente mau ngasih bantuan ya silahkan.
Tapi kalaupun kami tidak dibantu, kami nggak kan pusing atau khawatir.

Jangan samakan kami dengan orang biasa yang engkau temui diluar.

Teruslah menolong dalam kebaikan, karena ia tak akan salah alamat............

Tiada bermaksud sombong, hanya ingin prinsip itu bertahan lama dan kekal.
karena icun meon..........

Perjalanan ke Siantar & Kuliah Masa Depan

Sabtu, 21 September 2019

Entah produktif atau tidak, yang jelas sabtu ini adalah hari yang sangat berkesan menurutku.
Pagi, selepas sholat subuh berjamaah, aku kembali menuju rumah persinggahan, rencananya mau murajaah satu surat. Namun karena teman-teman yang lain sudah memulai al-ma'sturat, maka murajaahnya tidak jadi.

************************************************

Habis kegiatan pagi, aku bersiap-siap. Hari ini memang sudah direncanakan untuk perjalanan menuju Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun. Ada beberapa kegiatan yang hendak saya ikuti disana. Launching, makan-makan dan berkunjung ke rumah yang baru dibedah.

************************************************
Sekitar 06.30, aku sudah berangkat menjemput yang lain di daerah laut dendang, tepatnya di daerah pondok rowo. Dari Pondok Rowo kami bertolak ke siantar melewati tol. Sebelum sampai ke gerbang tol terakhir (tebing tinggi), kami harus mengisi ulang saldo terlebih dahulu. Nah, ni out of topic ni, buat teman-teman yang hendak keluar gerbang tol tebing tinggi pada hari jumat, sabtu dan minggu, mending pasttin deh saldo kartunya cukup. Karena kalau ngisi ulang di gerbang tol tebing tinggi, sudah dua kali kualamin, antrinya panjang lauuttt, ribut lagi.

************************************************

Sembari menunggu antrian isi ulang saldo, ketua tim kami yang berada di mobil lain menelpon (kami mobilnya ambulance) 😜😜. Dia minta untuk jalan iring-iringan dan sekalian sarapan dulu. Jadi kami menunggu sekitar beberapa detik (maklum ya, keadaannya di tol).
Setelah berjumpa, kamipun beranjak untuk mencari sarapan.

************************************************
Sesuatu memang sudah diatur ya, aku hampir selalu berfikir begitu. Tidak ada yang kebetulan.
Tidak terlalu lama berjalan, kamipun singgah di lokasi jualan pedagang kaki lima, tepat disamping restoran india tebing tinggi. Yaa, sudah banyak yang tahulah itu restoran, pamornya bagus. Kamipun berhenti dan sarapan.

************************************************
Berkesan, bagaimana tidak.
Daerah itu sangat kuingat, bukan restorannya tapi mesjid yang ada disebelahnya. Aku lupa nama mesjidnya, Al-Mukhlis kali ya. Tapi aku pernah istirahat dan curhat disitu. Apa curhatnya? itu tak perlu disebutkan ya. 
ini foto mesjidnya.
foto ini sengaja kuambil karena tiba-tiba dia tanya berangkat jam berapa.
sudah dari tadiiii (dalam hati)
************************************************
Habis sarapan, kami bertolak menuju lokasi kegiatan di Nagori Serapuh, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun. Kegiatan disana berlangsung sekitar tiga jam include makan-makan. Setelah selesai di nagori serapuh, kami bergerak menuju daerah jalan aman. Kawasan yang lebih dekat dengan pusat kota Pematang Siantar. Tempat tujuan kedua ini adalah rumah yang telah dibedah beberapa waktu lalu. Ada kabar senang dan sedihnya. Disatu sisi, mereka sudah punya rumah baru dan bagus, disisi lain ibu penerima kunci yang baru menikmati rumah itu beberapa hari, sudah berpulang ke rahmatullah.

************************************************
Oke, kegiatan sebenarnya sudah selesai, kami sudah siap-siap untuk pulang.
Tim kami berpisah disekitar lapangan merdeka pematang siantar, yang orang siantar kembali ke asal dan kami juga siap-siap menuju medan.
Namun, sebelum perjalanan pulang, kami diajak untuk makan burung goreng. Yah, walaupun saat itu sebenarnya aku masih kenyang. Tanpa fikir-fikir dan tanya-tanya, akupun langsung membawa mobil menuju lokasi burung goreng.
Dalam benakku, burung goreng yang dimaksud adalah burung goreng yang pernah kami (aku bersama mereka juga) singgahi beberapa bulan lalu. Yaitu disekitar Sinaksak. Namun saat aku asyik membawa mobil menuju lokasi, tiba-tiba rekan sebelahku meningatkan untuk pelan-pelan.
Akupun bertanya, ada apa bang? ini kan masih jauh.
Namun dia bilang, enggak, pelan saja kita sudah dekat!
Aku masih heran, apakah memang disekitar sini atau tidak.

************************************************
Waaah, ternyata.
Aku kaget, tapi tidak sampai lompat. Tapi bagaimana ya, heran saja......
Ini tempat juga pernah kukunjungi pada hari yang sama dengan hari aku berada di mesjid itu. Bedanya, singgah dimesjid itu adalah pilihanku, singgah di tempat makan ini adalah pilihannya.
Yaa, mungkin tidak ada yang spesial sih, terlalu alay.
Tapi ya sudahlah,........

************************************************
Sepintas kubelokkan mobil menuju lokasi parkir, petugas parkir mengarahkanku. Tau nggak? Aku juga diarahkan untuk parkir ditempat aku dulu parkir, pas didekat musholla rumah makan itu. Bagaimana gak makin senyum-senyum sendiri coba?
Padahal awalnya aku sudah hendak parkir di bagian tengah lokasi parkirnya, tapi ya begitulah.
Sebelum turun dari mobil, kusempatkan untuk mengambil foto bagian depannya agar nanti aku ingat kembali kalau lewat disini.
Rumah Makan Beringin Indah 2 (Burung Goreng)

************************************************
Waah, kuanggap ini hanya hiburan dan agar aku makin kuat untuk bawa mobil terus sampai medan.
Didalam, aku duduk disebelah kolam, bukan ditempat yang dulu pernah kutempati, tapi disebelahnya, terpisah oleh kolam. Alasannya, karena kaum mak-mak yang kami bawa sudah duduk duluan disitu. 😅😅😅😅.

************************************************
Selesai makan, kamipun berpisah dan pamitan untuk pulang masih-masing.
Nah, siap itu, ada lagi ini kejadiannya yang hampir sama dengan kejadian kemaren. yaitu membeli roti kacang.
Singkat cerita, akhirnya kami juga membeli kacang ditempat yang dahulu engkau juga belinya disitu. Gak pasti juga sih, pokoknya disekitar kedai itu juga.
Bagaimana nggak makin senyum coba? Ngantukku saja hilang sudah.
Namun, aku tidak ambil fotonya. Karena tidak begitu lama kami sudah berangkat langsung ke medan.

************************************************

Nah, sampai di Medan, akupun menghantar kembali tim ke alamat semula kujemput. Sampai di sana, aku sengaja istirahat sejenak. Namun momen itu menjadi tidak sejenak, namun makin enak karena ada kuliah masa depannya. wkwkwkwkwk

************************************************
Ya, yang kubawa itu adalah suami istri. Mereka sering tanya kapan aku menikah, sudah punya atau belum, ini dan itu segala macam.
Akhirnya, malam itu kami berdiskusi panjang lebar dan ada banyak hal yang kudapat dari diskusi itu.
Aku memang tidak mengatakan kalau tempat-tempat tadi pernah kudatangi bersama seseorang.
Namun, yang jelas diskusi panjang ini cukup memberikan informasi bagiku tentang sedikit masa depan yang sebenarnya jarang kufikirkan secara serius.

************************************************
Aku ingat emak.....................

Minggu, 15 September 2019

Please, Hindari Obat Kimia

Bukan karena benci obat, toh aku juga mengkonsumsi obat-obatan. Tapi aku berusaha agar obat-obatan itu adalah organik, herbal atau mengandalkan obat dari daya tahan  tubuhku sendiri. Maaf, bukan karena rasa sok peduli atau sok tahu. Aku memang bukan dokter, juga bukan ahli obat/thabib. Tapi menurutku obat-obatan kimia tidak baik untuk dikonsumsi, apalagi dengan mudah dikonsumsi. Halal mungkin halal, tapi nggak baik.
Kalau soal pahit, jujur pahit, sabar pahit, ikhlas juga kadang kata orang pahit. Tapikan harapannya dengan yang pahit itu penyakit kita (fisik/rohani) dapat dihilangkan.

Please, hindari obatan kimia ya
Bukan berarti tidak boleh dikonsumsi.  Boleh, tapi tolong jangan konsumsi.

Sudahlah, tolong........
Cukup dua orang itu saja yang pergi, cukup........
Jangan ditambah lagi...........
Itu sudah cukup jadi pelajaran....
Jangan ditambah lagi......

Very emotional...........................................

Sabtu, 14 September 2019

Membantu, Tidak Akan Salah Alamat

Bermanfaat adalah salah satu nilai yang harus dijunjung. Apa gunanya badan kalau hanya menjadi beban dan menyusahkan orang.
Seyogyanya, orang yang lebih mampu, akan lebih banyak memberi manfaat. Namun banyak yang tidak seperti itu, bahkan secara tidak disadari ia adalah beban.
Beban bagi orang-orang yang mungkin "kekurangan".

Alkisah,
Ada seorang pengemis datang ke rumah rasulullah, maka ia meminta kepada istrinya untuk memberikan pengemis itu pakaian. Setelah diberi, pengemis tersebut merasa senang dan segera menuju pasar untuk menjualnya. Maka ada seorang saudagar buta bersama seorang budaknya hendak membeli baju tersebut dengan harga berapapun, Jika baju itu berhasil dibeli, maka si budak dimerdekakan. Alhasil, baju tersebut berhasil dibeli dengan harga yang fantastis. Keberkahan baju tersebut disebutkan menjadi perantara sembuhnya penglihatannya. Sebagai wujud syukur, ia kembalikan baju itu kepada rasulullah. Rasul tersenyum dan berucap kira-kira seperti ini "Ya aisyah, lihatlah baju ini telah memberikan barokah dengan mengkayakan pengemis, memerdekakan budak,

Membantu adalah wujud yang menunjukkan bahwa kita punya manfaat. Bukan hanya daging berjalan yang berisi kotoran.
Membantu, selama itu dalam hal kebaikan, maka mudah-mudahan itu tidak akan pernah salah alamat.
Siapapun orangnya, bantulah.



Senin, 02 September 2019

Husnudzhon

Saya buat judulnya husnudzon, karena sedikit banyak memiliki keterkaitan dengan tulisan dibawah ini.

**********************************************************

Alasan kenapa saya tuliskan adalah karena saya kemaren merasa pengen ngejawab aja tu pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang cewek peserta kajian.
Kira kira redaksinya kayak gini "Ustadz tadi bilang untuk berhusnudzhon, sampai kapan kita berhusnudzhon ustadz?"
Masih panjang sih, tapi saya potong dan ambil intinya seperti kalimat pertanyaan di atas.

**********************************************************

Saya berharap sekali jawabannya itu memuaskan bagi saya pribadi.😁😁😁😁😁😁😁
Tapi dalam jawaban ustadz itu hanya menekankan bahwa cobalah terus untuk berhusnudzhon.
Nah, saya (meskipun bukan penanya) gak dapat jawaban sampai kapan.

**********************************************************

Tentu sebagai orang yang gak gampang puas saat itu, ni pertanyaan menjadi ganjal terus. Bahkan pengen ngasih pendapat. Tapi saya tahan karena beberapa hal yang saya pertimbangkan.
Nah, singkat cerita saya jawabnya disini saja dulu.
Kapan kapankan bisa saya sampaikan kalau perlu.

**********************************************************

Berhusnudzhon, sampai kapan?
Jawaban saya begini kira - kira.
Berhusnudzhon itu bisa kita artikan sebagai menduga yang baik-baik, berprasangka baik atau juga mengestimasi yang baik bukan berfikiran yang tidak-tidak/buruk.
Kalau kira-kira cocok dengan arti berhusnudzhon seperti yang saya sebutkan, silahkan lanjutkan membacanya.





Kalau boleh saya samakan berhusnudzhon itu dengan menduga-duga atau kalimat kerennya berhipotesis, maka jawaban sampai kapan berhusnudzhon itu adalah SAMPAI KITA SUDAH MELAKUKAN KAJIAN DENGAN BERDASARKAN DATA VALID, JADI KITA SUDAH PUNYA KESIMPULAN BERDASARKAN DATA YANG MEMADAI.

Kalau udah punya kesimpulan yang teruji, ya ngapain berhusnudzhon lagii?

Jadi jawabannya kurang lebih seperti itu, sampai kamu sudah punya kesimpulan yang teruji, maka boleh tetap pada dzhon kamu/hipotesis awal kamu atau menolak dzhon itu sekalipun itu statusnya berhusnudzhon, karena apa?
Karena kamukan sudah tau sendiri simpulannya bagaimana.

Hihi.
Mokasih...