Senin, 18 November 2019

Luruskan Lagi, Ingatkan Lagi, Agar Kita Saling Menguatkan

Aku pernah membaca sebuah buku tulisan jamil azzaini.
Buku ini menjadi salah satu buku yang sangat menginspirasi bagiku.
Buku ini sebenarnya pernah kutawarkan untuk dibaca, namun mungkin karena ada buku lain yang sudah direncanakan harus segera tamat, maka ada sedikit kendala.
Oh iya, buku ini juga sudah pernah kusampaikan pada acara Daurah sekitar tanggal 2-3 November 2019 lalu. 
Aku tidak tahu pasti apakah materi yang kusampaikan itu mengena atau tidak, yang penting aku memang ingin sangat dan sangat, agar inspirasi buku ini bisa dirasakan oleh orang lain, selain aku.
Ya, lebih tepatnya selain aku itu ya kamu, dan yang lainnya.



************************************************

Hal yang paling kuingat tentang buku ini adalah bagaimana penulis mengajarkan kita membuat sebuah tujuan itu menjadi berarti. Kalau membuat tujuan itu, pastikan engkau bisa menjawab tiga pertanyaan dasarnya. Ini saya tuliskan dibawah ini pertanyaan tersebut:
1. Apa manfaatnya bagi kamu bila kamu mendapat tujuan itu atau menjadi yang kamu tuju? tuliskan.
2. Siapa lagi penerima manfaatnya selain kamu, jika tujuan/cita-cita itu tercapai olehmu? tuliskan... semakin banyak penerima manfaat, maka tujuanmu itu besarr.
3. Bisa tidak tujuan/cita-cita itu dibanggakan dihadapan Allah/membawa kita ke surga? jawab dan tuliskan....


************************************************

Pertanyaannya singkat, namun bagiku itu sangat mengena dan membuatku sedikit merubah keinginan agar dapat menjawab tiga pertanyaan itu.


************************************************

oke, agak oot.
Aku teringat dengan keinginan untuk menjadi A, dengan alasan ini dan itu.
Sebenarnya aku ingin menjelaskan ketiga pertanyaan itu padamu juga pada beberapa orang yang kurasa perlu untuk dijelaskan, namun entah kenapa aku urung.
Nanti saja, toh dia tau juga kayaknya harus lurus karena Allah dulu yang paling utama, dakwah yang paling utama, keridhaan allah yang paling kita cari 😊😊😊.
Baru kemudian hal-hal lain soal kebebasan, keleluasaan, kelapangan, kemudahan dan sebagainya yang sifatnya yaa duniawi.
Bukan berarti tidak ada visi duniawi,
Buku itu justru mengajarkan kita juga menyusun tujuan duniawinya, namun tujuan itu harus dapat menjadi sumber kebaikan bagi kita dan orang lain.


************************************************
Dibawah ini, aku juga mencoba untuk pastekan coretanku saat membaca buku itu, bukan resensi atau ringkasan, hanya beberapa hal yang kucatat kembali, sehingga ketika aku melihatnya, aku ingat kembali apa maksudnya.
Ini buat kamu, juga buat yang lain.
Para aktivis dakwah.
Kita tetaplah da'i, sebelum menjadi apa-apa.......
πŸ’—





************************************************
ON….
Dalam hidup ada masalah dan kita selalu ingin bisa menyelesaikan masalah, baik keuangan, jodoh, pekerjaan dan keluarga. Jika kita menekan tombol ON, maka in syaa allah kita sudah menyelesaikan segudang masalah. Pertanyaannya.. Bagaimana menekan tombolnya?
Setiap hari ada perubahan, siap tidak siap, mau tidak mau. Perubahan akan selalu dihadapi, dan kita harus ON terus dan tentunya Move On kea rah yang lebih baik, tanpa melupakan idealisme.
 ***************************************
Hari ini saya mencoba menyampaikan secara singkat tentang buku ini. ON karangan Trainer keren Jamil Azzaini. Mungkin teman-teman bisa memperhatikan bagus-bagus wajah yang di layar, siapa tau ada yang kenal, tetanggaan atau mungkin malah oomnya.
Okey teman-teman
Kita harus bergerak, berubah, beradaptasi dengan tetap menjaga idealisme yang kita miliki.
Jika harus menggonggong, kita bisa tanpa harus menjadi anjing. Berkicau tanpa harus menjadi burung, mengaum tanpa harus menjadi singa. Kita tetaplah manusia, dai yang menyeru kepada kebaikan dan mengharapkan keridhaan allah sepanjang hidup, meskipun telah keluar dari dunia kampus. In syaa allah
 ***************************************
Okey,
Pertama, penulis membuat kata kunci Move On.
Apa itu move on? Move on itu artinya berpindah, bergerak. Tentunya kita sebagai seorang muslim bergeraknya ke arah yang lebih baik, lebih tinggi, berkelas, bermartabat. Ingat ya: ke arah yang lebih baik, lebih tinggi, berkelas, bermartabat. Intinya selalu berusaha menjadi lebih baik.
Kalau kita saat ini sedang galau yang sangat luar biasa, mungkin karena hutang menumpuk, keuangan terpuruk, keluarga sedang remuk, setiap hari cekcok dengan saudara, malas-malasan beraktivitas, bingung mau ngapain, bisnis masih stagnan, target tak tercapai. Itu tandanya kita harus segera move on.
 ***************************************
Haha, saya nggak ngalamin tuh yang kayak tadi, buktinya hidup saya enak-enak saja, enjoy, selow kayak di pulo, santai kayak dipantai. Ngapain move on.
Noo, dunia akan selalu berubah, tubuh selalu berubah meski kita kita sadar dan anda tahu? Anda dan saya tidak bisa menghentikan perubahan. Bahkan kalau prof renal kasali dalam bukunya malah makin menegaskan Ayo berubah…lets change…. Move-on memang belum pasti kita jadi lebih baik, tapi kalau tidak move on, tidak akan pernah kita menjumpai adanya perbaikan… Ayo move on.
Move on itu dibutuhkan oleh siapapun orangnya, anda, saya mereka dan siapapun yang menginginkan keberadaannya di dunia ini tidak sia-sia.
***************************************
Hidup ibarat seperti mengayuh sepeda, untuk membuatnya seimbang kita harus move on, itu kutipan dari kata-kata albert einsten ya. Bila berhenti mengayuh, sepeda akan jatuh. Bila anda tidak berubah, dunia akan tetap berubah dan nasib anda tertinggal bahkan menjadi barang rongsokan…
Ayo berubah, karena hidup itu cirinya juga berubah dan bertumbuh, bila tidak berubah maka kita mati. Memang jasad kita masih hidup tapi kehidupan kita sudah mati menunggu jasad menyusul masuk kedalam perut bumi.
Ketika terbiasa dengan rutinitas, kita mulai terjebak seperti robot, bekerja tak perlu lagi berfikir padahal kita memiliki akal dan bahkan tidak menggunakan nurani. Saat itulah kehidupan mulai mati, meskipun orang masih melihat kita sebagai makhluk hidup.
***************************************
Jamil Azzaini ada menyebutkan tipe orang itu dengan sebutan monkey see monkey do. Orangnya kopi pasti, meniru generasi sebelumnya/seniornya dan sangat takut melakukan terobosan baru. Khawatir melanggar tradisi. Akhirnya, meski kita pekerja keras, loyalitas tak terbatas. Namun ternyata kita tidak mampu bersaing dengan mereka yang sudah mulai berkapasitas.
Ayo…kita harus move-on. Mulai hari ini. Kita harus move-on.
*************************************** 
Buku ini mengajak kita untuk move on. Singkatnya ada dua hal besar yang perlu kita lakukan untuk move on. Yaitu mendeteksi diri apakah kita sudah mengalami perubahan positif yang signifikan atau malah sebaliknya. Kemudian kita juga harus men-set up ulang  diri kita secara perlahan untuk move on secara keseluruhan..
Bagaimana kita mendeteksi diri? Buku ini mengarahkan kita untuk menggunakan empat ON sebagai alat deteksi yang efektif.
*************************************** 
Mendeteksi diri itu bisa dengan empat ON, vision, action, passion and colaboration
*************************************** 
Pertama Visi-ON
Apa itu visi-on? Kira-kira seperti bintang, dilangit itu ada banyak bintang. Diantaranya pasti ada yang paling terang. Dalam hidup ini kita punya banyak keinginan, dan pasti ada keinginan yang paling besar. Nah, itulah gambaran singkat vision. Kita harus menemukan vision hidup itu agar bahan bakar dan energy perubahan/pergerakan kita ada. Tanpa visi, anda tidak tahu harus berbuat apa toh? Anda bepergian namun tak punya tujuan. Akhirnya hanya berputar-putar tanpa arah. Bila adapun resolusi tahunan, itu hanya sebatas membuat dan mendeklarasikan tanpa ruh tanpa penjiwaan. Al hasil, semangat hanya di awal dan hasilnya juga tidak dapat memberikan kebanggaan dan itu……terjadi berulang sepanjang tahun.
***************************************
Vision itu the real destination. Coba bayangkan kalau seorang nahkoda tanpa ada tujuan pelabuhan, ia malah bisa celakan, dirompak, menabrak orang, kehabisan bahan bakar bahkan hal yang lebih parah.
Hidup juga seperti itu, pribadi harus ada visi, keluarga harus ada visi, pekerjaan harus ada visi dan daalam setiap aspek kehidupan hanyalah untuk mencapai tujuan abadi yang sesungguhnya. Apa itu?
Ya…tepat…itu dia… jannatun naim, keridahaan allah. Hidup ini ini pada hakikatnya adalah untuk menuju kehidupan yang abadi. Jadi sekarang kita sudah dapat sedikit gambarankan? Pelabuhan terakhir kita adalah surga. Hari ini yuk kita pastikan kalau vision kita, semua hal yang kita miliki sekarang ini tidak menjadi beban kita saat pulang menuju destinasi kita. Tapi tentu menambah bekal…
Bila visi kita hanya keduniaan, perjalanan kita berarti masih setengah, dan tentu kita semua tidak mau berhenti hanya sampai separuh, kita hendak sampai akhir. Rugi sekali kalau tujuan kita hanya sebatas kurang dari 100 tahun kan? Hidup di pelabuhan/kampong akhirat itu tidak hanya 100, 1000, sejuta tahun tapi selama-lamanya.
Mana sebenarnya puncaknya? Bukan berarti kita tidak boleh memiliki itu semua. Tentu saja boleh. Namun kita pastikan seperti tadi. Itu semua adalah be?kal.
*************************************** 
Ingatkan dengan Al-fatih?
Sahabat itu susah lelah
Al-ahzab-perang khandaq-salman mengusulkan penggalian parit sebagai trap, dengan P 8 Km, L 5 K, T 3 meter, bisa bayangin? Dalam kerja keras itu mereka ndak ngeluh. Eh malah ada yang nanya ya rasul, kota mana ni yang kita taklukan dahulu? Yang Heraclius. Dan visi jangka panjang yang dikirimkan rasul adalah penaklukan konstatinopel dan visi inilah yang turun temurun sampai pada kisah m. alfatih.
Sodara-sodara. Kita harus menyusun vision kita dari sekarang, visi dunia dan visi akhirat.
 ***************************************
Contoh visi akhirat:
Penulis punya visi akhiratnya itu seperti ini:
Ya allah, aku ingin memeluk Muhammad saw, maka pantaskan diriku. Bimbing diriku ke jalan yang engkau ridhai, bukan jalan yang engkau murkai
Visi dunia: itulah cita-cita anda hari ini.
*************************************** 
So what gitu loh?
Coba, anda mimpinya apa? Goal besar anda apa?
Mungkin hamper keseluruhan dari kita punya mimpi Menyusun visi hendaknya jangan egois, misal aku ingin masuk surge dan punya mobil mewah, rumah mewah, istri megah, anak soleha, pendapatan sekian dan sebagainya?
Bagus? Tentu bagus, lantas jikalau nanti anda sudah mendapatkan ini semua? So what gitu lo?
 ***************************************
Bukankah kita diajarkan untuk memegang dan mengingat teguh 10 nilai atau muwashofat kader? Apa itu yang terakhir?.....
Ya, bermanfaat bagi orang lain kan? Khairun nass………
Visi juga harus menghidupkan  orang lain, mewujudkan visi orang lain, visi orang tua salah satunya.
Kalau gak punya visi, coba kamu Tanya tu sama orang tua apa mimpi mereka, dan wujudkan itu menjadi visi anda.
Ayuk, kalau sudah ada visinya, hidupkan, deklarasikan, sampaikan dan bayangkan agar semakin bersemangat menggapainya.  Dan ingat….
*************************************** 
Hati2 dengan kata-katamu (pizaa)
Oh iya, teman2 . kita pastikan juga ya supaya visi kita itu dapat menjadi hal yang dapat kita banggakan dihadapan allah. Sadarilah, jika wujud visi itu untuk Allah, itu akan menjadi ibadah dan allah akan  membantu.
Untuk itu, coba pastikan kalau visinya bisa menjawab 3 pertanyaan dasar ini:
*************************************** 
1.    Apa manfaat untuk saya
2.    Siapa lagi penerimanya
3.    Bisa nggak visi itu membawa ke surga?
Deklarasikan agar orang-orang tahu, dalam doa, membuat resolusi,
*************************************** 
On selanjutnya adalah Acti-ON.
Tentu mimpi tak cukup tanpa aksi, sehingga kita juga harus punya acti-on. Tapi teman-teman juga harus tahu dan ingat kalau kita punya waktu yang terbatas, maka harus ada skala prioritas tentang mana hal yang harus kita lakukan dahulu dan mana yang tidak, mana yang boleh dan mana yang tidak. Bahkan harus berani mengatakan tidak untuk action yang menjauhkan dirinya dari vision.
Oke, setiap orang memiliki pengalaman dan pertimbangan yang berbeda saat menentukan yang utama di antara yang setara. Tapi hormatilah pilihan orang lain karena sama-sama berpahala dan sama – sama tidak mendatangkan dosa.
Ketika menyusun action, biasakan membuat skala prioritas sesuai  hukum allah, menyibukkan dengan hal wajib dan sunnah, sekali-kali melakukan hal mubah, meninggalkan yang makruh dan menjauhi yang haram. Dalam seluruh aspek, bukan hanya spritiual.
*************************************** 
Dan, kita usahakan untuk menjauhi maksiat-maksiat kecil.
 ***************************************
Dalam action, kita juga harus menyadari kalau waktu kita hanya sedikit.
*************************************** 
Ada slogan yang sering kita dengar seperti ini,
*************************************** 
Teman-teman, buku ini pesan sama kita kalau kerja itu jadilah expert.
*************************************** 
Action yang enak dan cerdas untuk mencapai visi itu tentu kalau aksi kita itu sesuai dengan passion. Nah nambah istilah on baru. Passion.
 ***************************************
Mengapa harus mengeluh di kantor? Bukankah #BekerjaituIbadah dan ibadah itu tak boleh mengeluh
Orang rugi itu... kerja ngeluh terus....gaji pas-pasan, kerjanya nggak ibadah pula
Agar bekerjaituibadah, maka jangan korup, jangan culas, jangan ngeluh, apalagi mencaci teman rekan kerja
Orang hina itu meludah di sumur yang airnya ia minum sendiri.
Kalau nanti sebel sama perusahannya, ya saran saya ya keluar aja...
Coba kalau bekerjaituibada, gaji dapat, pahala dapat. Apa nggak paten kali itu?
Agar bekerjaituibadah dan mengangkat derajat kita, yuk kita berusaha kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.
 ***************************************
Hanya orang-orang bodoh yang  bekerja mengejar gaji dan penghasilan tak seberapa, tapi ia mengabaikan pahala yang ada di dalamnya.
Bila anda sudah jatuh cinta dengan pekerjaan anda, apa yang harus kita buat?
Asah dan belajarlah sungguh-sungguh sampai kita menjadi expert.
Passion itu bukan hanya cinta, tapi bangun cinta didalamnya. Yuk, temukan profesi yang benar anda cintai, anda rela melakukannya hingga larut malam, anda hanyut dalam profesi itu.
 ***************************************
Nah, kalau gitu jika kita jatuh cinta  dengan sang Maha Pencipta, bangun cinta dengan selalu membawaNya kemanapun dan dimanapun.
 ***************************************
Ini passion ku nggak? Yuk coba jawab pertanyaan ini:
1.    Apakah sangat menyenangi kegiatan tersebut? Sering larut/enjoy enggak? Rela enggak jika tidak dibayar? Kalau ya, bisa jadi itu
2.    Selalu ada progres kah? Kemampuan kita meningkat enggak? Hasilnya naik nggak? Kalau ya, mungkin itu...
3.    Ada enggak pengakuan/apresiasi? Ada yang mau bayar enggak? Kalau ya, maka tekuni profesi itu. Namun jika tidak, maka keluarlah dari jalan itu.
Ingat, dahulukan to be daripada to have, terus kenali diri dengan baik.
 ***************************************
Yuk, the end of  ON ni.
Dibanding sendirian, kolaborasi bisa membuat tenaga yang dikeluarkan menjadi berkurang, hasil usaha menjadi berlipat dan berkah melimpah, insyaa allah.
Berkolaborasi itu menjadikan allah sebagai prioritas. Bukan maksiat bersama. Kedua dengan siapa anda berpartner? Jangan dengan  pengkhianat. Ketiga harus ada simbiosis mutualisme.
Ingat ya, ini saringan ketiga.

Minggu, 10 November 2019

Kali ini Jalan ke Berastagi

Bismillah,
Ahad, 10 November 2019

Edisi tulisan kali ini masih tentang jalan-jalan, kalau soal ringkasan buku belum aku ketikkan karena gak tau kenapa. Padahal bukunya Prof. Rhenald Kasali yang Lets Change kuanggap udah tamat, tapi aku kurang bisa menceritakannya dalam bentuk ringkasan, pokoknya intinya itu berubahlah menjadi yang lebih baik, minimal usahanya begitu, berfikir dari berbagai sudut pandang agar tidak selalu belagak menjadi hakim. Yah, prof itu memang akademisi, aku iyakan kalau dia memang orang manajemen, gaya berfikirnya bagus, namun bukan berarti aku mengikuti gayanya secara mentah. Kini bukunya Buya Hamka masih berkutat sampai kata pengantar. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜…

******************************************

Baiklah, tulisan kali ini singkat saja, ini tentang perjalanan ke daerah Kabupaten Karo. Karo atau mungkin lebih dikenal lagi daerah Berastagi/Kabanjahenya itu aku ibaratkan seperti Bukittinggi kalau di daerahku, Sumatera Barat. Perjalanan ini melibatkan aku dan keluarga jhon, bukan uncle jhon, tapi lebih sering kupanggil dengan bang jhon. Niat awalnya sih jalannya ke daerah Riau, tapi batal karena adik perempuan yang bersangkutan tidak ikut dan stay di asramanya, yaitu di STIKES, disamping alasan-alasan lain. Padahal, ketika diajak untuk jalan ke Riau itu aku semangat sekali, selain aku belum pernah kesana, aku juga penasaran bagaimana rute yang dilewati, apakah benar pemandangan yang dilihat itu mayoritas perkebunan atau ada hal-hal lain yang menarik. Tapi kembali, rencana awal batal dan perjalanan di arahkan ke Karo. 

******************************************

Baiklah, kami berangkat pada hari Sabtu pagi. Sebelumnya aku sudah mengambil mobil sebagai kendaraan kami di daerah gelatik, dengan dengan mall manhattan. Kemudian mobil itu kubawa ke rumah tempatku. Sebenarnya ada beberapa agenda yang harus dilakukan sebelum mengambil mobil, ke kantor Uniland mengurus surat dan mengantarnya ke BPBD Kota Medan (masih ingat kalau suratnya sempat salah dua kali πŸ˜….  Kembali ke kampus untuk persiapan pelaporan akhir, kemudian ambil mobil yang lumayan mmm juga ceritanya, kemudian berangkat ke johor untuk pertemuan kelompok ikan nila, kemudian makan bersama untuk perpisahan dengan seorang mahasiswa unpad dan kemudian tidur. Besok paginya, selepas agenda pagi, aku bergegas menuju desa pondok rawa kecamatan precut sei tuan. Sebenarnya janjinya itu berangkat jam 6, namun apalah daya. Akunya bangun sudah dekat azan subuh, kemudian agenda pagi selesai sekitar 6.40 dan baru bisa mandi, memberi makan 5 kucing yang tak mau sekolah itu, kemudian harus mengisi angin ban mobil dulu dan baru bisa berangkat ke precut sei tuan. Akhirnya, aku baru sampai ke desa pondok rawa sekitar jam 7.30. Sampai disana, aku dan bang jhon keluarga berkemas-kemas barang dan cus berangkat via tol bandar selamat-amplas.

******************************************

Kami berangkat melalui jalan alternatif (via kuala bekala), ya kalau tidak salah ada dua rute yang bisa dilewati kalau menuju kabupaten karo, jalur umumnya itu adalah melewati jalan jamin ginting, kemudian yang kedua itu adalah lewat namo ukur, kabupaten langkat (aku baru sekali melewati rutenya). Jalur jamin ginting ini bisa dikatakan bercabang, dari medan menuju daerah sembahe, kita bisa melewati jalan jamin ginting itu sendiri atau juga dari kuala bekala/via kebun binatang medan, nanti akan berjumpa kembali di jalan jamin ginting di ujung kecamatan pancur batu atau sembahe, cek ulang kalau salah. 
Nah, namun akan tetapi kalau, ternyata..... Aku sih sebenarnya tahu kalau minyak mobil itu sedikit, tapi karena masih terlihat dua bar, aku tenang-tenang saja. Selang beberapa menit memasuki rute kuala bekala, mobilnya sudah minta minyak.
Waduh bang, lupa...minyaknya.....
owalah, kok gak diingatin tadi, ini mana ada SPBU dari sini kecuali lewat pancur batu, masih cukup nggak tu?
In syaa Allah cukup (menenangkan) πŸ˜….
Namun setelah beberapa saat, kami putuskan untuk belok menuju pancur batu, khawatir minyaknya tidak cukup (meskipun masih cukup sih sebenarnya, tapi antisipasi kemacetan, maklum hari libur). 
Kamipun masuk persimpangan menuju kecamatan pancur batu, jalannya kecil dan ternyata lumayan jauh. Ujung dari jalan itu adalah pasar (di sini namanya pajak) pancur batu. Wiih, ini pasar weka weka sekali, hal yang paling kuingat itu adalah ketika dipersimpangan kulihat anjing-anjing yang dibungkusin di dalam goni. hihihi. Aku gak tau apakah itu untuk dijual dan dipelihara atau buat di panggang dan disantap. B1.....

******************************************

Setelah keluar dari pasar, aku percepat jalan mobil itu untuk mencapai SPBU terdekat. Wah, alhamdulillah kami mendapati SPBU pancur batu (sebelah kanan bila menuju karo), namun OMG...... minyaknya habis, kemudian SPBU selanjutnya, status minyaknya masih dalam perjalanan (ada banyak kendaraan yang menunggu disitu). SPBU selanjutnya itu adanya di atas, ketika sudah melewati tanjakan dari tikungan, sekitaran bandar baru gitu. Akhirnya kami putuskan mengisi minyak eceran saja, sebanyak tiga liter. Aku anggap sih itu sudah cukup.
Kamipun berjalan, daaan jren-jreng...
Memasuki tikungan pertama masih aman, kedua masih lancar, ketiga kayaknya masih namun sudah semakin padat anndddddd,shit... macceet.
Lalu lintas sangat padat dan macet panjaaaaaang lauuuut. Sementara kondisinya itu nanjak. Lama kemudian, layar didepanku kembali ngasih peringatan untuk isi minyak. Meskipun sebenarnya itu masih cukup dalam keadaan normal, namunkan ini kondisinya ab--ab--abnormal. Maceet, Akhirnya, kayaknya sudah benar-benar sedikit, aku banting setir ke kanan untuk berhenti.

******************************************

Waaah, bla-bla-bla. Setelah selesai dengan kebingungan dan semakin suntuk melihat kemacetan panjang. Bang jhon memutuskan untuk turun untuk membeli minyak eceran lagi, sementara aku dan keluarganya menunggu disekitar mobil saja. (hihi, sorry ya bang.. bukan bermaksud ngerjain, tapi memang khilaflah kayaknya). Sembari menunggu, akupun berfikir "hhh, dosa awak banyak, ni belum konfirmasi ke rumah lagi, aduuhh, tadi pagi bangunnya pas adzan lagi, belum dhuha lagi dan........."
Minta ampun dan segera kuhubungi orang tuaku, sinyal disitu hilang timbul. Ketika sudah tersambung, aku langsung mengkonfirmasi bahwa aku sedang perjalanan menuju ke karo bersama X naik Y dan sekarang kondisinya begini dan begitu.
"ia.....kami juga menuju bukittinggi, disni juga seperti itu, padat dan macet. nyari minyak juga agak susah". Hihi, pokoknya doain ya mak, yah...
Oke, setelah mengkonfirmasi itu, aku sudah lumayan tenang dan kembali menunggu kembalinya bang jhon (dengan harapan ada membawa minyak). Alhasil, diapun kembali setelah setengah jam turun mencari minyak.
"ampun ah, si cun dikerjainnya PH...."
"hihi, sorry bang.... khilaf....πŸ˜…".
Ada enam botol/enam liter yang diperoleh, semoga ini cukup untuk sampai ke SPBU yang ada minyaknya. Botolnya akan kami kembalikan esok hari saat sudah pulang. Habis mengisi, kami bergegas kembali naik. Alhamdulillah kondisinya sudah lumayan lancar, lebih lancar dari macet maksudnya, dan akhirnya kami mendapati SPBU bandar baru serta berhasil mengisi minyak disitu. Setelahnya, kami sudah lumayan lega untuk berjalan naik ke karo, meskipun masih menghadapi kemacetan di berbagai titik. Kamipun sampai di Kabanjahe itu sekitar jam 14.00. Pertama kali menjemput si bila (kalau ndak salah, adik bang jhon), bersama salah satu temannya, aku lupa namanya. Memang ndak nanya πŸ˜†, ingat si anu.

******************************************

Setelah siap, kamipun bertolak menuju mesjid raya kebanjahe. Pertama kali mesjid ini kumasuki, namun menjadi kedua kalinya aku kunjungi. Dulu areal mesjid ini sudah pernah kukunjungi saat ingin berkunjung ke pengungsian korban gunung sinabung. Namun karena sampainya malam, kami ndak bisa masuk saat itu dan hanya istirahat sejenak diluar pagar. Di mesjid ini kami sholat dan kemudian makan bersama. wiiih, mantap.
Yang makan bersama disini ternyata bukan kami saja, kalau ndak salah ada tiga atau empat keluarga yang juga makan siang bersama disana. Setelah makan, waktupun sudah memasuki waktu ashar.

******************************************

Selanjutnya, kami bertolak menuju daerah jalan pendidikan-jaranguda. Daerah ini ada di dekat kota berastagi, jadi kami harus kembali ke arah medan. Sebelum tugu berastagi, kami ambil ke kiri (samping pos polisi), jika lurus juga bisa, hanya saja kita akan melewati gerbang wisata gundaling sehingga mesti bayar. Kami kesini bukan hendak ke gundaling, namun bersilaturrahim ke rumah keluarganya istri mr.jhon. Sampai disana, aku mencoba beristirahat dan menutup mata. Namun karena memang bukan tipenya gampang tidur kalau siang/sore, tidurpun tak dapat kunikmati. Setelah selesai bercerita. Kamipun beranjak ke tujuan utama, yaitu pemandian air panas lau sidebuk-debuk. Aku baru bisa ambil foto saat hendak berangkat dari rumah ini ke lau sidebuk-debuk.
Ke pemandian, kami berangkat sekitar 17.30an melalui jalur belakang, melewati jalan yang ada peternakan sapi perahnya dan keluar di jaranguda kalau gak salah namanya, tidak terlalu jauh dari persimpangan pemandian air panas itu. Hanya saja, kami menghabiskan waktu kurang lebih dua jam untuk sampai ke sana, karena maceeeet.


Temanya pink-pink (bita, aqwam, ais, kakek, si bila dan temannya serta bg jhon.
Namanya liburan, liburnya dua hari lagi sehingga dimana-mana macet. Jalan menuju ke pemandian itupun macet. Aku yang saat itu membawa mobil malah sempat dag-dig-dug saat kami harus berhenti pas di bagian tanjakan. Saat itu tanjakannya lumayan tinggi, gelap, macet, jalan sempit dan tidak ada rambu. Karena khawatir, aku menunggu mobil yang didepan sampai diatas duluan, baru aku susul. Eh, setelah berjalan dan hampir sampai diujung tanjakan, kami harus terhenti kembali dan ya allah, mesin mobil tiba-tiba mati. Sejurus kuhidupkan kembali dan kuinjak gasnya, namun eh mati lagi dan hampir mundur panjang. Aku injak remnya, kemudian kuhidupkan kembali untuk kedua atau ketiga kalinya. hihi, aku lupa kalau posisi gearnya saat itu adalah gigi dua, wajarlah lemot dan mati di tanjakan, kurang fokus. Terakhir mesinnya kuhidupkan kembali dengan posisi gear satu dan bang jhon yang disamping ku sudah siap melepas hand break/rem tangan. Aku injak gas dan menahan klos (karena memang begitu), bannya sedikit split dan akhirnya kami sampai ke atas dengan selamat. Meskipun aroma kain klosnya keluar, kurang tau juga apakah itu memang dari kain klosnya atau kampas remnya, yang jelas beraroma. haha.
Okelah, karena jika menuju pemandian air panas yang dituju pertama akan membutuhkan waktu yang lebih lama dan diestimasi sudah ramai (isi kolamnya bukan air panas lagi, tapi orangπŸ˜‚πŸ˜‚). Kamipun memilih untuk mandi di pemandian yang pertama kali tampak. Akhirnya kami mendapati pemandian air panas pesona, mitranya pariama. Sekalian diputuskan untuk menginap disini dengan menyewa dua kamar.

******************************************

Oh iya, saat itu, harga tiket masuk pemandiannya adalah Rp. 10.000 per orang, anak kecil maupun anak besar πŸ˜…, berapapun ukurannya asal udah jalan. wkwwkwk. Sementara harga sewa perkamarnya adalah Rp. 150.000 perkamar/malam. Disini ada kamar, musholla dan tentunya fasilitas pemandian air panas. kami yang laki-laki mandi setelah beristirahat dan sholat, sementara mereka pihak sebelah mandi duluan. Yang terakhir selesai mandi adalah aku, sampai sekitar jam 23.00an. Yah, ini adalah kali ketiga aku menikmati mandi hot spring di lau sidebuk-debuk, pertama kali itu dulu saat awal-awal aku ke medan di tahun 2012an, tidak berapa lama setelah menjalani ospek mahasiswa baru, kemudian di tahun 2017 bersama alumni rk penghuni kosan josh dan ketiga kalinya adalah yang ini. Setelah selesai mandi, akupun bersih-bersih dan menuju mobil untuk tidur. Meskipun sebelum tidur, aku penasaran dan mencoba makan pop mie, 😁😁😁. 

Aku tidur dimobil karena kamar hanya ada dua, selain sudah penuh, memang yang dipesan hanya dua. Keduanya sudah full diisi oleh keluarga bang jhon termasuk si bila dan temannya. Mereka berdua tidak jadi dihantar kembali ke STIKES malam itu karena kondisi jalanan masih sangat padat. Menurut perhitungan kami, kalau kami tetap jalan menuju STIKES di Kabanjahe, sampai disana itu sekitar jam 1 dan kembali ke pemandian bisa sampai jam 3 dini hari, sama saja dengan kami tidak ada istirahat. Akhirnya mereka ikut menginap dan akan dihantar esok hari. Tidak mungkin kan aku gabung di kamar mereka, eh mungkin aja sih tapi bakalan ada yang ngamuk itu.... disusulnya pula awak.


******************************************

Sekitar jam 03.00 dini hari, aku terbangun karena dingin, kemudian segera kuambil sisa celana pendek dan baju yang ada ditasku, kututupkan kebagian kaki dan kepalaku, sementara jaket yang awalnya kujadikan bantal, kini kukenakan agar terasa lebih hangat. Kemudian aku tidur kembali dan tok..tok...tok.
Suara ketukan kaca itu membuatku terbangun sekitar jam 03.30, bang jhon membangunkanku dengan langsung memberi usulan untuk berangkat mengantar bila dan temannya ke kabanjahe pagi sepagi itu.
"Ayo bang!" seruku
"Bentar, ditanyakan dulu ke mereka".
Setelah ditanya, alhasil mereka urung untuk berangkat pagi dengan alasan pintu pagar belum dibuka. Akupun melanjutkan tidur kembali. Hendak tahajjud tapi batal.


******************************************


Setelah adzan shubuh berkumandang, aku kembali dibangunkan oleh bang jhon dan kamipun sholat shubuh di mesjid yang berada dibagian atas. Hanya membutuhkan kurang dari lima menit dari parkiran mobil itu menuju ke mesjid. Sampai di mesjid, kamipun mengambil air wudhu' dan sholat disana. Aku tidak dapat bergabung berjamaah karena terlambat. Selepas sholat, kami minum teh sejenak pas disamping mesjid itu, kalau tidak salah nama mesjidnya al hidayah. Setelah minum teh dan membeli obat kusuk cap laba-laba πŸ˜„. Kamipun turun kembali ke parkiran dan bersiap-siap untuk berangkat menuju kabanjahe untuk sarapan dan mengantar pulang bila dan temannya.

******************************************


Sekitar jam 07.00, kami sudah sampai di kabanjahe, lalu lintas masih lengang sehingga perjalanan kami lumayan lancar. Sampai di sana, kamipun sarapan bersama dan bersegera menuju ke STIKES untuk bersih-bersih. Mereka aja sih yang bersih-bersih, akunya ndak. Masih dingin...... lagian tadi malam aku sudah bersih-bersih.😁

******************************************


Habis bersih-bersih, kamipun pamit-pamitan, mereka bersalaman dan kemudian foto bersama. Maklumlah, momen liburan kurang komplit tanpa cekrek-cekrek. Setelah berfoto dan pamit, kamipun berjalan kembali pulang ke medan.

******************************************

Tidak langsung ke medan, kami sengaja singgah sebentar di daerah sibolangit, eh itu daerah sibolangit atau bukan ya. Kami singgah untuk melihat bungalow TIBRENA. Kalau menuju daerah karo, tibrena itu ada disebelah kiri, masuk dari simpang air terjun satu hati (honda), bukan becanda ya. Satu hati disini kayaknya memang ada kaitannya dengan honda, karena aku melihat tulisan satu hatinya dibubuhi logo honda, itupun kalau ndak silap. Yaaa, meskipun tulisannya ada yang miss, maksudku hurufnya tidak lengkap. bacaannya SATU H  TIπŸ˜‚, no radikal. 
******************************************


Setelahnya,kami kembali bertolak ke medan. Alhamdulillah, kami sudah sampai di medan sekitar jam 12 siang. Kami masuk dari tol amplas dan kemudian ke luar di tol cemara menuju ke desa pondok rawa. Sesampainya dirumah, merekapun turun dan aku langsung menuju ke medan kembali untuk mengembalikan mobil. Mobil kuhantarkan kembali ke gelatik, dekat dengan mall manhattan. Setelah serah terima, akupun mengambil sepede motorku dan balik ke rumah.
******************************************
Ditunggu ceritamu......