Minggu, 25 Maret 2018

Bagi-Bagi, Asal Dapat Sedikit Aja udah Alhamdulillah :)


Melihat bakwan aku teringat.
 ****************************
Gambar Saat Buka Bersama di Musholla Pertanian USU


****************************

Agak siangan, umakku diantar ke kantor kecamatan untuk mengikuti agenda Dharma Wanita. Ya beruntung dia adalah seorang istri PNS, istri seorang guru di sekolah yang berbau agama. Hal ini yang menjadi faktor ummaku harus mengikuti kegiatan darma wanita atau sering disingkat dengan DWP (Dharma Wanita Persatuan) *maaf kalau tulisannya salah.
Tidak ada yang spesial dalam keberangkatannya, ia akan diantar oleh ayahku ataupun kami anak-anaknya yang sudah mulai mahir mengendarai sepeda motor, kemudian ia pulang setelah zuhur. Kadang dijemput, namun tak jarang ia pulang sendiri menggunakan jasa angkutan roda tiga (becak dayung).

****************************

Kedatangannya akan selalu lebih istimewa daripada keberangkatannya. Istimewa karena selalu ada hadiah yang ia bawa untuk kami yang tinggal di rumah. Hadiahnya memang tidak mahal, tidak banyak dan juga tidak disimpan lama-lama.
Hadiahnya hanya sebongkah kue, sebiji atau dua buah goreng bakwan, sebiji kue lapis dan terkadang masih disisakan umakku segelas air mineral merk SMS (bukan  promosi).
Haha, istimewa sekali, aku kurang tahu rasanya saat mengingat-ingat momen ini.
Oiya, sebelumnya harus kuberi tahu dulu. Kumpulan cemilan yang sejenis itu sangat sering ku nikmati saat sejak menjalani perkuliahan. Namun baru teringat tingkah umak dan ayahku beberapa waktu sebelum tulisan ini muncul.

****************************

Cemilan itu istimewa. Bagaimana tidak?
Cemilan itu baru kusadari mengandung kasih sayang orang tua. Haha, puitis ya.........
Aku pun bayang-bayangin, kalau umakku menahan-nahan nafsunya untuk mencicipi cemilan kotak itu ditempatnya berkumpul bersama orang tua lainnya. Tujuannya apa? Tentu supaya kami yang dirumah juga mencicipi makanan itu. Meski hanya secuil sahaja, tidak dapat menikmati keseluruhan, bahkan untuk sepotong kue yang sempurnapun susah diperoleh. Kami ada 8 orang yang menunggu dirumah J

****************************

Cemilan itu ada kasih sayangnya,
Umakku menyembunyikannya kedalam tas sandangnya, lalu ia pertahankan sampai pulang ke rumah. Ia ingat selalu anaknya.
Di rumah, kamipun antusias melihat kedatangannya, mungkin bukan karena dirinya. Tapi karena isi tasnya yang tak seberapa itu.
Ya, kami akan bertanya, mana mak bakwannya, mana ini dan itu? J

****************************

Umakku pun mengeluarkannya dan memotong-motongnya menggunakan jari-jemarinya, lalu diserahkan ke anak-anaknya..
Kadang rebutan, kadang begini dan begitu.
Ya Allah,
Luar biasanya
Tak kusangka betapa uniknya.

****************************

Hal yang sama juga dilakukan ayah, saat ia mengikuti acara dari instansi, ia akan mendapat sebungkus nasi. Kadang juga mereka berdua ikut, sehingga memperoleh dua bungkus J
Sebungkus nasi itu seringkali tidak dihabiskan bahkan mungkin pernah tak dimakan.
Entah karena ia lebih memilih masakan istrinya atau apa alasannya, tidak ada yang tahu diantara kami.
Yang jelas, nasi bungkus juga menjadi salah satu yang sangat kami tunggu-tunggu.
Ketika sudah sampai dirumah, sebungkus nasi itupun akan dibagi-bagi.
Haha, lucu ya, lucu tapi haru
Aku pun dapat menikmati sedikit nasinya, bercampur sedikit sambal dan beberapa helai sayuran dan secuil daging ayam/ikan dll. Begitu pula dengan saudaraku yang lain (kalau berada dirumah).
Ya Allah, nikmatnya..
Asal dapat sedikit saja sudah Alhamdulillah.
Kan bisa dicampur dengan nasi yang dirumah biar lebih kenyang

****************************

Umakku dan Ayahku, Kalian memang hebat
Rainal Sunny