Minggu, 29 Oktober 2017

Sholat dan Kebersamaan Kita (Kini dan Nanti)

Teruntuk Ayah, Umak, Kakak, Abang, Adik dan Diriku Sendiri


Lihatlah, betapa indahnya sistem hidup ini diciptakan.
Sistem yang tidak dapat ditandingi oleh siapapun yang ada didunia ini
Meski hari ini, Timur Tengah telah dikabarkan menjadi negara pertama yang memberikan kewarganegaraan bagi robot wanita yang bernama SHOPIA. Entah untuk apa ia diciptakan karena dikabarkan juga berpotensi dapat memberikan keturunan. Oh My God, kok fikiran saya jadi aneh ya baca kabarnya.
Tulisan ini bukan ingin membahas kemajuan teknologi yang berkembang,
Kali ini saya hanya hendak mengutarakan salah satu keindahan sholat,
Yow, Sholat

********************************************************************

Nabi Ibrahim pernah berdoa agar keturunannya dijadikan sebagai generasi yang mendidirkan sholat.
Bayangkan, sekilas memang terpintas biasa. Namun setelah mendapat penjelasan dari Ustadz Arifin Zakariya, penulis Tafsir Inspirasi. Ternyata sholat menjadi penghubung lintas generasi.
Masyaa allah, lihatlah betapa indahnya sistem kehidupan ini.
Ketika setelah sholat kita saling mendoakan dihadapan rabb yang sama.
Bahkan mungkin dalam waktu yang sama dan dengan kata-kata yang sama, dengan gerakan tangan yang sama dan raut muka yang sama.
Masyaa allah.

********************************************************************

Indahnya, sejauh manapun kami merantau, jauh dari rumah sendiri.
Rasanya kurang puas kalau hanya dengan telponan atau video call.
Rasa rindu rasanya lebih sensasional kalau dimasukkan dalam rangkaian doa setelah sholat.
Lama-lama telponan serasa belum apa-apa kalau tidak saling mendoakan dalam sholat.
Masyaa allah.
Luar biasa sitem hidup ini diperbuat.
Suatu yang semu dan tidak tersentuh justru lebih menenangkan dari pada benda-benda fisik.

********************************************************************

Kakak, Abang dan Adikku
Ingat selalu ya.
Sholat itu kebutuhan kita
Rasakanlah, kalau kita sedang dalam keadaan terhubung saat beribadah
Terutama dalam doa, mungkin saat itu kita menggunakan waktu yang sama
Barangkali kita sholat dhuha juga pada waktu yang sama, atau sama-sama di awal waktu, sama-sama melaksanakan secara berjamaah, sama-sama dibaris pertama atau baris kedua, sama-sama pakai sarung atau celana, sama-sama menunduk dalam waktu serupa, bahkan sama-sama menangis.
Bayangkah juga kalau kita sedang sama-sama menengadahkan tangan diwaktu yang sama dan dihadapan rabb yang sama, kita juga sama-sama mengucapkan bismillah, sholawat bersama, konten doa yang serupa dan mungkin juga sama-sama mengusap wajah bahkan berlinang air mata

********************************************************************

Kakak, Abang dan Adikku
Jangan lupa sholat ya
Karena itu menjadi pemersatu kita, sekarang dan juga mudah-mudahan nanti
Saat kita sudah sampai dikampung halaman

********************************************************************
J  J  J  J J  J  J  J

Jumat, 27 Oktober 2017

Hidup Bukan Untuk Sekedar Menikah??


Setiap orang memang memiliki gaya berfikirnya masing-masing, dan kita selaku orang yang dididik memakluminya.
Hidup tidak pernah kembali ke masa lalu, meskipun kita dibohongi dengan dunia perfilman yang menunjukkan ada beberapa pintu ajaib atau gerbong yang mampu membawa kita ke masa lalu, bahkan ke masa depan.

Masa depan.
Sudah lumrah memang bila kita (termasuk saya) yang sudah menginjak umur 24 tahun saat menulis ini, harus berhadapan dengan pertanyaan "Kapan Nikah"?
Mungkin pertanyaan ini tidaklah kontroversi, karena dianggap sebuah pertanyaan yang lumrah untuk dilontarkan bagi mereka yang sudah beranjak tua.

Namun saat ini, bagi saya pertanyaan itu bukanlah hal yang harus difikirkan dengan keras.
Toh hidup saya bukan untuk mencari pasangan semata.

***********************************************
Saya bukan melarang siapapun untuk melontarkan pertanyaan yang sama, namun saya hanya mengungkapkan kerisihan terhadap mereka yang berani dan selalu berani untuk melontarkan pertanyaan sejenis, hampir pada setiap pertemuan.

Ingat, ada banyak hal yang bisa dipertanyakan kepada mereka yang engkau jumpai dijalan.
Tanya bagaimana kabarnya, tanya kesehatannya, apa kegiatannya, sudah kemana saja, bagaimana kabar keluarganya dan bagaimana mimpi-mimpinya.

***********************************************

Hidup bukan untuk sekedar menikah
Saya mengerti maksud saudara ketika mengatakan atau mencuatkan dalil bahwa nikah itu merupakan suatu langkah penyempurnaan agama.
Saya dan mungkin orang lain mampu menerima itu, tapi bukan gara-gara serangan dalil itu maka seolah aku harus menikah secara cepat dalam satu atau dua hari, satu atau dua minggu lagi atau mungkin sudah membawa pasangan halal saat menjumpaimu dikesempatan lain. atau harus galau habis-habisan, update sosial media yang menyentuh perihal nikah atau apalah yang mengarah kesana.

***********************************************

Hidupku bukan untuk sekedar menikah
Ya...ya...ya
Engkau memang akan berpotensi menanyakan "nunggu mapan"?
selanjutnya akan diucapkan mapannya barengan dong..........
josh kale.....

Terima kasih sudah mengingatkan, tapi ingat, hidupku bukan seperti hidupmu yang sibuk mengurusi waktu nikah.
Bukan berarti saya tidak memiliki niat mau menikah,
Engkau sendiri kan tau kita sama sama manusia.

***********************************************
Kawan, nikah itu memang sebuah kebaikan
Tapi jika kita sudah mau dan mampu
saya tidak bilang mampu secara finansial, mampu secara ini itu dan segalanya,
saya hanya bilang, menikahlah kalau kamu sudah mau menikah dan mampu untuk melakukannya
Tidak usah diumbar-umbar betul masalah nikah itu, apalagi engkau juga memiliki nasib yang sama denganku.
Kalau engkau sudah nikah, cukuplah engkau menanyakannya dengan secukupnya.

***********************************************
Semoga engkau mengerti bahwa hidupku dan hidupmu bukan hanyak sekedar untuk menikah