Minggu, 22 September 2019

Hutang Budi

Boleh jadi ini akan menjadi tulisan tersingkat.
Salah satu alasan saya sering menolak bantuan atau pemberian adalah menghindari rasa berhutang budi. Sampai aku pernah diingatkan agar jangan menolak pemberian orang, karena menolak rezeki.
Gak tau apakah tindakan itu salah atau tidak.
Sejatinya saya ingin tidak ada maksud pamrih dalam setiap tindakan memberi bantuan. Saya hendak mengatakan agar kita saling membantu karena rasa kemanusiaan. Boleh boleh saja kalau kita membantu orang supaya kita dibantu juga. Tapi, jangan sampai bantuan/pemberian kita itu justru diungkit-ungkit kembali oleh diri kita sendiri karena mau dianggap paling berjasa, jangan......

Mungkin engkau menganggap jasamu sudah paling besar, tapi itu hanya mungkin, bukan pasti.
Bisa jadi jugakan orang yang engkau bantu itu, tanpa engkau sadari sudah memberikan pengorbanan yang jauh lebih besar. Coba fikir ulang deh kalau mau ngungkit-ngungkit kebaikan. Lain hal kalau memang pede yaa.

Maaf, orang diam itu bukan berarti tidak tahu apa-apa, boleh jadi dia hampir tau semuanya. Orang ribut bukan juga karena semata dia gak suka, namun hendak memberikan pelajaran.
Kadang senyumnya sinis mengejek, anggaplah itu caranya untuk bilang "gak usah gitu-gitu kali".

Maaf, kayaknya kami memang perlu menegaskan,
Kami hadir untuk membantu, bukan dibantu.
Sebisa mungkin akan kami bantu, ya kalau ente mau ngasih bantuan ya silahkan.
Tapi kalaupun kami tidak dibantu, kami nggak kan pusing atau khawatir.

Jangan samakan kami dengan orang biasa yang engkau temui diluar.

Teruslah menolong dalam kebaikan, karena ia tak akan salah alamat............

Tiada bermaksud sombong, hanya ingin prinsip itu bertahan lama dan kekal.
karena icun meon..........

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih.