Kamis, 14 Desember 2017

Kampung dan Perantauan

Kita sudah tau, sekaya apapun daerah orang, yang dirindukan tetaplah kampung sendiri.
Hidup diperantauan ini memang penuh canda tawa dan senda gurau.
Hidup di perantauan mestilah kuat-kuat dan pandai
Tak perlu tunjukkan kecantikan dan kekurangan
Tidak perlu juga utarakan dan tunjukkan kesusahan dan sulitnya hidup mu pada orang-orang
Diperantauan kita harus selalu kuat dan terlihat kuat
Meskipun sesekali muncul tanda tanya    





Kamis, 09 November 2017

Keluarga dan Semangat

Bahasa Inggrisnya mungkin "Family & Spirit" 
Recorded 28 September 2017

Faktor Keluarga Mempengaruhi Semangat
Video ini sebenarnya diambil pada 28 September 2017 di Jalan Halat menuju Jalan Ir. Juanda Medan
Pagi ini saya kebeteluan membawa sebuah mobil ke kampus karena hujan.
Beberapa hari yang lalu saya melihat segerombolan pria bertubuh tegap, sedang dan kurus dan memiliki kulit sawo matang di atas sebuah mobil pick up, kebetulan saat itu tidak hujan seperti pada video ini.
Saat memandangi hal-hal seperti ini, aku selalu teringat dengan sosok para ayah yang berjuang mencari kehidupan.
Mungkin perjuangannya penuh untuk keluarganya, mungkin juga tidak hanya keluarganya tapi ada orang lain yang harus ia tanggungjawabi di luar keluarga kecilnya.
Sebagai penghantar, bukan bermaksud mendramatisir keadaan, namun ini hanya lintasan fikiran saat menuliskan ceritera.
Di atas mobil pick up saya melihat mereka ada berdiri, ada yang merokok, ada yang hanya bermenung, ada yang sedang makan (mungkin sarapan pagi), ada yang ngantuk bahkan ada yang tertidur dalam keadaan semak seperti itu.
Saya hanya bisa berbisik sedikit “mereka berjuang untuk siapa ya?”
Mudah-mudahan mereka dan keluarga serta orang-orang terdekatnya selalu dilindungi dan berkahi nikmat yang cukup.



“Sayangnya saya tidak sempat mengambil video atau gambarnya, karena sedang bawa sepeda motor”
Video 28 September 2017
Pada hakikatnya, tidak ada yang berbeda dengan maksud cerita di atas,
Video ini juga saya ekspos sebagai wujud inspirasi terhadap sosok ayah yang menjadi tulang punggung keluarganya.
Oiya, dalam cerita ini saya mencoba dengan tidak memasukkan faktor sifat pengemudi angkutan umum medan yang ugal-ugalan, asal masuk dan segalanya.
Kali ini saya hanya ingin mengingat-ingat tentang sosok ayah
Lihatlah, selintas mungkin terlihat biasa saja
Hujan tidak membuat semangatnya untuk menjemput nikmat menurun
Meski ia harus melindungi dirinya dari cipratan air hujan yang semakin deras dengan menggunakan potongan spanduk lusuh
Ya, kaca mobil angkot yang ia bawa sudah tidak ada.
Saya yang melihat hanya bisa berharap agar ia tidak jatuh sakit karena kebasahan,
Pastinya hal yang sangat mengganggu bukan? Jika mengemudi dengan mengejar waktu karena desakan penumpang sambil memutar mutar stir mobil dengan satu tangan dan menahan spanduk pelindung pada sisi lain.
Sosok ayah apakah memang selalu begitu?
Bagi saya tentu saja seperti itu
Tidak hanya mereka yang sopir angkot atau pekerja bangunan
Bahkan para pejabat
Kenapa mereka nekat dan bersemangat
Pasti karena ada orang lain yang membuat bersemangat dan rela berkorban
Mungkin itu hanya keluarganya, mungkin juga orang lain di luar keluarga kecilnya

*Catatan (Bukan berarti sosok ibu tidak menginspirasi)

Minggu, 29 Oktober 2017

Sholat dan Kebersamaan Kita (Kini dan Nanti)

Teruntuk Ayah, Umak, Kakak, Abang, Adik dan Diriku Sendiri


Lihatlah, betapa indahnya sistem hidup ini diciptakan.
Sistem yang tidak dapat ditandingi oleh siapapun yang ada didunia ini
Meski hari ini, Timur Tengah telah dikabarkan menjadi negara pertama yang memberikan kewarganegaraan bagi robot wanita yang bernama SHOPIA. Entah untuk apa ia diciptakan karena dikabarkan juga berpotensi dapat memberikan keturunan. Oh My God, kok fikiran saya jadi aneh ya baca kabarnya.
Tulisan ini bukan ingin membahas kemajuan teknologi yang berkembang,
Kali ini saya hanya hendak mengutarakan salah satu keindahan sholat,
Yow, Sholat

********************************************************************

Nabi Ibrahim pernah berdoa agar keturunannya dijadikan sebagai generasi yang mendidirkan sholat.
Bayangkan, sekilas memang terpintas biasa. Namun setelah mendapat penjelasan dari Ustadz Arifin Zakariya, penulis Tafsir Inspirasi. Ternyata sholat menjadi penghubung lintas generasi.
Masyaa allah, lihatlah betapa indahnya sistem kehidupan ini.
Ketika setelah sholat kita saling mendoakan dihadapan rabb yang sama.
Bahkan mungkin dalam waktu yang sama dan dengan kata-kata yang sama, dengan gerakan tangan yang sama dan raut muka yang sama.
Masyaa allah.

********************************************************************

Indahnya, sejauh manapun kami merantau, jauh dari rumah sendiri.
Rasanya kurang puas kalau hanya dengan telponan atau video call.
Rasa rindu rasanya lebih sensasional kalau dimasukkan dalam rangkaian doa setelah sholat.
Lama-lama telponan serasa belum apa-apa kalau tidak saling mendoakan dalam sholat.
Masyaa allah.
Luar biasa sitem hidup ini diperbuat.
Suatu yang semu dan tidak tersentuh justru lebih menenangkan dari pada benda-benda fisik.

********************************************************************

Kakak, Abang dan Adikku
Ingat selalu ya.
Sholat itu kebutuhan kita
Rasakanlah, kalau kita sedang dalam keadaan terhubung saat beribadah
Terutama dalam doa, mungkin saat itu kita menggunakan waktu yang sama
Barangkali kita sholat dhuha juga pada waktu yang sama, atau sama-sama di awal waktu, sama-sama melaksanakan secara berjamaah, sama-sama dibaris pertama atau baris kedua, sama-sama pakai sarung atau celana, sama-sama menunduk dalam waktu serupa, bahkan sama-sama menangis.
Bayangkah juga kalau kita sedang sama-sama menengadahkan tangan diwaktu yang sama dan dihadapan rabb yang sama, kita juga sama-sama mengucapkan bismillah, sholawat bersama, konten doa yang serupa dan mungkin juga sama-sama mengusap wajah bahkan berlinang air mata

********************************************************************

Kakak, Abang dan Adikku
Jangan lupa sholat ya
Karena itu menjadi pemersatu kita, sekarang dan juga mudah-mudahan nanti
Saat kita sudah sampai dikampung halaman

********************************************************************
J  J  J  J J  J  J  J

Jumat, 27 Oktober 2017

Hidup Bukan Untuk Sekedar Menikah??


Setiap orang memang memiliki gaya berfikirnya masing-masing, dan kita selaku orang yang dididik memakluminya.
Hidup tidak pernah kembali ke masa lalu, meskipun kita dibohongi dengan dunia perfilman yang menunjukkan ada beberapa pintu ajaib atau gerbong yang mampu membawa kita ke masa lalu, bahkan ke masa depan.

Masa depan.
Sudah lumrah memang bila kita (termasuk saya) yang sudah menginjak umur 24 tahun saat menulis ini, harus berhadapan dengan pertanyaan "Kapan Nikah"?
Mungkin pertanyaan ini tidaklah kontroversi, karena dianggap sebuah pertanyaan yang lumrah untuk dilontarkan bagi mereka yang sudah beranjak tua.

Namun saat ini, bagi saya pertanyaan itu bukanlah hal yang harus difikirkan dengan keras.
Toh hidup saya bukan untuk mencari pasangan semata.

***********************************************
Saya bukan melarang siapapun untuk melontarkan pertanyaan yang sama, namun saya hanya mengungkapkan kerisihan terhadap mereka yang berani dan selalu berani untuk melontarkan pertanyaan sejenis, hampir pada setiap pertemuan.

Ingat, ada banyak hal yang bisa dipertanyakan kepada mereka yang engkau jumpai dijalan.
Tanya bagaimana kabarnya, tanya kesehatannya, apa kegiatannya, sudah kemana saja, bagaimana kabar keluarganya dan bagaimana mimpi-mimpinya.

***********************************************

Hidup bukan untuk sekedar menikah
Saya mengerti maksud saudara ketika mengatakan atau mencuatkan dalil bahwa nikah itu merupakan suatu langkah penyempurnaan agama.
Saya dan mungkin orang lain mampu menerima itu, tapi bukan gara-gara serangan dalil itu maka seolah aku harus menikah secara cepat dalam satu atau dua hari, satu atau dua minggu lagi atau mungkin sudah membawa pasangan halal saat menjumpaimu dikesempatan lain. atau harus galau habis-habisan, update sosial media yang menyentuh perihal nikah atau apalah yang mengarah kesana.

***********************************************

Hidupku bukan untuk sekedar menikah
Ya...ya...ya
Engkau memang akan berpotensi menanyakan "nunggu mapan"?
selanjutnya akan diucapkan mapannya barengan dong..........
josh kale.....

Terima kasih sudah mengingatkan, tapi ingat, hidupku bukan seperti hidupmu yang sibuk mengurusi waktu nikah.
Bukan berarti saya tidak memiliki niat mau menikah,
Engkau sendiri kan tau kita sama sama manusia.

***********************************************
Kawan, nikah itu memang sebuah kebaikan
Tapi jika kita sudah mau dan mampu
saya tidak bilang mampu secara finansial, mampu secara ini itu dan segalanya,
saya hanya bilang, menikahlah kalau kamu sudah mau menikah dan mampu untuk melakukannya
Tidak usah diumbar-umbar betul masalah nikah itu, apalagi engkau juga memiliki nasib yang sama denganku.
Kalau engkau sudah nikah, cukuplah engkau menanyakannya dengan secukupnya.

***********************************************
Semoga engkau mengerti bahwa hidupku dan hidupmu bukan hanyak sekedar untuk menikah

Rabu, 23 Agustus 2017

Umak dan Ayah (Ibu dan Ayah)

23 Agustus 2017


Entah kenapa, malam ini saya ingin menulis hal ini.
mudah-mudahan kelak, bisa menjadi salah satu pelajaran bagiku bila sudah Allah berikan pendamping hidup dan keturunan.

Ibu dan Ayahku.
Cerita ini saya tulis secara singkat, berdasarkan dengan terkaan dan ingatan.
Bermula dari rasa iriku kepada teman-temanku yang selalu bisa bermanja-manjaan dengan ibu dan bapaknya.
hhmmmm,
Pertanyaan "Aku kok gak pernah dengar ya, kalau ibu dan bapakku ngomong I Love you / Aku sayang kamu nak atau apalah yang sejenis dengan itu. (Kalau pas masih dedek bayi kayaknya sering ya 😊 )

Setauku, semenjak usiaku beranjak remaja, ibu dan bapakku belum pernah mengucapkan kalimat-kalimat itu dihadapanku, apalagi lewat telepon.
Paling kalau nelfon, nanya sudah makan atau belum, sehat atau tidak, apa yang kurang, dah selesai.
Kalaupun jumpa, yang ditanya apakah udah sholat atau belum, dari mana. dah selesai
Gak ada tu bilang, aku bla..bla...bla.

hmmmmm.......

Setelah difikir-fikir, ternyata kami (anak-anaknya) adalah termasuk orang yang sangat beruntung.
Gimana ya..
Ada perbedaan yang amat jelas antara hubungan di keluarga kami dengan keluarga mereka yang mungkin keterbukaan dengan kalimat itu sangat lebar dan perbedaan itu tidak bisa saya haturkan disini.
Karena dia ada dihati, ialah ketenangan dikala jauh, kecukupan dan hhh santailah pokoknya.

Ibu dan Ayahku.
Semoga ini menjadi ingatan bagiku.
Meski kalian tak pernah berucap cinta
Tapi kami tau
Kasih dan sayang kalian kepada kami, jauh lebih dalam dari sekedar ucapan
Karena kalian realistis

PRODU OF YOU