Minggu, 11 Desember 2016

“Pesan Kekuatan Hati”

Bismillah. Kamis,  08 September 2016

Hari ini aku sedang sibuk. Persiapan sebuah agenda yang kabarnya dapat menghasilkan manusia-manusia konseptor di lingkungannya memang sangat menguras waktu dan pemikiran. Bayangkan, ketika dituntut untuk memodifikasi sebuah produk yang belum pernah kita sentuh dengan seksama. Aku yang masih tabu dengan agenda ini tentu saja membutuhkan pemikiran eksta untuk dapat memahami dan menerima feel agar totalitas bekerja. Namun, hari ini Aku bukanlah hendak mengungkapkan kebingungan seputar rentetan rancangan program tersebut. Hari ini, Aku hanya ingin berbagi seputar cerita tentang pertemuan dan pertanyaan yang membuatku merasa tidak enak seharian.



Pagi ini seperti biasa, panggilan agenda syuro’ harus dipenuhi dengan hati yang kuat. Godaan pagi untuk menikmati dingin udara yang cocok untuk bermimpi harus dilawan mati-matian. Dalam perjalanan menuju lokasi, dengan penerangan matahari dhuha yang amat menenangkan, Aku melihar seoarang kakek tua dengan menjinjing 150 an bungkus kerupuk dipunggungnya. Jalannya terengah-engah dan pincang, kaki sebelah kanannya memang terlihat tidak normal dan tidak kuat. Aku berjalan perlahan di belakang dan memperhatikan jalannya yang seolah ingin jatuh. Ketika mencoba melewatinya dengan sepeda motorku, Aku mencoba menoleh ke arah si Kakek, dan Ohhh. Aku sangat heran ketika melihatnya sudah oyong tepat setelah mendapatkan pohon yang cocok untuk berteduh. Ia terduduk dan melepaskan jinjingannya sambil menarik napas dalam-dalam. Ritme pergerakan parunya sangat-sangat tidak normal. Aku memutar balik dan mengejar si Kakek, panik dan mencoba menenangkan.


Sebenarnya, Aku bingung ketika sudah menghampirinya. Entah apa yang harus Aku lakukan. Setelah menginterogasi, Aku pun tahu bahwa ia mengalami asma yang sedang kumat. Spontan kutarik obatnya dari kantong bajunya, dan Oh.... obat itu kosong. Akhirnya aku hanya bisa menenangkannya dahulu dan belum berani meninggalkan sendiri.
Memang cerita di atas belum menarik bagiku, karena itu adalah hal-hal biasa yang dilakukan untuk seseorang yang memiliki kepribadian manusiawi. Anehnya, Aku yang sebenarnya ingin menasehatinya agar istirahat sejenak dan diantar ketempat tujuannya, kini malah berbalik. Ia  yang sudah jelas bagai jiwa yang ingin terbang mengucapkan dengan tersendat-sendat.”
“Nak, hati bapak kuat, badan ini aja yang udah tua. Selama hati ini kuat, semua bisa dijalani!”
 Maka Aku bertanya dengan heran... “Pak, bapak kuat jualan? Bapak mau kemana sebenarnya?”
“Saya mau kemesjid itu (sambil menunjuk), takut terlambat karena jalan saya lambat, kalau saya cepat kan saya bisa sholat sunat dulu sebelum sholat zuhur” icun

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih.