Senin, 31 Desember 2018

Mengapresiasi Muallaf Plus Liburan

Selasa, 25 Desember 2018

  
Seperti biasa, seminggu di akhir bulan Desember memang menjadi jadwal libur panjang, karena momen natal dan tahun baru. Libur panjang bagi mereka yang agak nakal, namun libur berselang-selang bagi mereka yang rajin masuk kantor.
Untuk mengisi liburan kali ini, berhubung saya tidak ikut serta dalam perjalanan semisal dengan tahun lalu (keliling Sumut Sumbar selama 10 hari). Liburan kali ini saya lebih memilih untuk stay di Medan dan ikut serta menyalurkan bantuan untuk beberapa muallaf di daerah binjai dan Kabupaten Karo.

Senin, 24 Desember 2018,
Kami berangkat dari Medan, kami ada tiga orang. Saya, pengurus dan seorang ustadz (ustadznya udah punya dua istri, wkkwkwkwkwkwk).
Keberangkatan awal sih tidak hanya bertiga, kami beriringan dengan pasangan muda yang juga merupakan rekan sejawat, namun kami nanti berpisah di tengah jalan karena tujuan akhir kami adalah ke Karo, sementara mereka berdua ingin berdua-duaan di kawasan wisata (rumah pohon). Tujuan pertama kami adalah menemui para muallaf di Desa Namu Ukur Utara, Binjai. Sesampainya disana, acarapun dimulai, ceramah disampaikan dan bantuanpun disalurkan kepada para muallaf yang hadir, mulaid dari Alquran dan paket santunan yang mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi mereka. Setelah istirahat sejenak, kami mulai beranjak menuju tempat kedua, yaitu ke kawasan Kabupaten Karo. Jalan yang kami lalui berbeda dengan jalan-jalan sebelumnya. Jalan kali ini dilewati langsung dari Namu Ukur ke Kecamatan Simpang Empat Karo, bukan via sibolangit. Nah, dengan alasan ustadz bahwa saya kurang tidur (padahal saya memang sering kelupaan soal dimana saya menyimpan kunci kendaraaan). Akhirnya, yang bawa mobil ambulance/kendraan kami adalah Al ustadz. 😅

****************************

Setelah sholat zuhur sekalian jamak ashar, kami melanjutkan perjalanan. Diiringi oleh pasangan muda yang hendak berwisata ke rumah pohon.
Tidak perlu saya ceritakan tentang mereka yang tersesat ya, dikejar anjing dan sebagainya. Wkwkwkwk
Intinya kami sudah sampai di Kabupaten Karo sekitar pukul 17.00 WIB. Karena sudah merasa lelah, kamipun ngopi dulu (eh iya, KOPI KARO itu mantap juga LO), dan menginap di daerah Berastagi. Menyewa satu kamar untuk kami bertiga, harapannya bisa istirahat agar perjalanan esok dapat dinikmati dengan sebaik-baiknya. Walaupun tidurnya juga tetap kemalaman, karena kedatangan tamu yang membawa beberapa buah durian, siap santap.

Karena durian sudah sangat lama tidak disantap, maka malam itu kita puaskan dengan semampunya.

****************************

Oke, hari sudah berganti
Sudah 25 Desember 2018, untuk menghindari kemacetan karena kegiatan pawai natalan, maka kami berangkat sekitar jam 08.30 pagi (selesai sarapan di daerah penceran). Kali ini yang bawa mobilnya dikembalikan ke saya, karena ustadznya harus ready dan menyiapkan ceramahnya agar berjalan lancara.
Kami pun memulai perjalan kembali menuju desa Rih Tengah, Kuta Buluh, Karo. Khabar pertama yang saya dengar adalah bahwa perjalanan akan ditempuh selama 3 jam. Dalam hati saya, berarti dekat dong. 😆
Mobilpun saya bawa, sekitar 45 menit perjalanan, kami bertemu dengan seorang pendamping muallaf di daerah Tigan Derket dan langsung menyerahkan sekitar 10 paket apresiasi. Tanpa memperpanjang dialog, kami segera menuju ke Rih Tengah.
Awalnya saya sangat semangat dengan jalannya yang begitu bagus dan lebar, namun sesampainya di kawasan Limang, jalannya sudah mulai kayak peyek, suara isi ambulance yang kami bawa pun sudah mulai bising, reng reng reng.

****************************

Oke, paling sejam dua jam saja.
Saya pun mencoba menikmati perjalanan,
Dua jam sudah berlalu, kami sampai pada pertigaan. Mencoba bertanya arah Rih Tengah kepada masyarakat yang sedang nongkrong di Lepau persimpangan tersebut. mudah-mudahan sudah dekat.
Pak, Rih Tengah ke mana ya arahnya?”
“ Ooo, kesana bang, lurus aja trus ke kanan, trus udah sepi ke kiri dan LOL”
Kira-kira masih jauh nggak pak?”
“ Paling ujung bang, sejam atau dua jam lagi lah”
Masyaa Allah, terkesan sekali saya mendengarnya
Alamak jang.......
Masih jauh ternyata
Mendaki gunung lewati lembah
9 gunung 7 lembah

****************************

Yah, karena sudah berjalan
Mau tidak mau harus dilanjutkan, paket harus disalurkan, ceramah harus disampaikan dan tugas harus diselesaikan.
Kami pun berjalan kembali, melewati hutan dan perbukitan, dengan jalan yang waw.
Merasa sudah lama melewati jalan, kami pun mulai berfikir. Mana ni desa Rih Tengah.
Sinyal sudah tidak ada, perumahan juga tidak ada.

****************************

Akhirnya kami menemukan perkampungan,
Namanya Ujung Deleng. Bahagia sekali
Kirain itu daerah Rih Tengah, eh ternyata setelah ditanya.
Lurus dek, gak usah belok-belok
Kampungnya paling Ujung.

****************************

What the??? Masih jauh ternyata.
Kami pun mencoba menelpon karena sudah menemukan sinyal.
Katanya, nanti perkampungan setelah sungai bang, sudah dekat dengan Rih Tengah.
Wah, mendengar sudah dekat itu, rasa lelah dan pening kami sudah mulai berkurang.
Mobil kembali digas,
Hampir disetiap turunan, kami menemukan sungai-sungai keci.
Karena sudah bosan, aku seringkali menanyakan kepada pengurus yang ikut disampingku.
“Bang ini udah sungai bang, kampungnya mana?”
Wkwkwkwkwkwk
Diapun hanya tertawa.

****************************

Karena merasa agar lelah, kami berhenti sejenak pada sungai yang entah sungai keberapa.
Cuci muka, ganti oli, main air dan sebagainya.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan

****************************

Singkat cerita, suda sekitar 2 jam dari desa limang, kami melihat Tower dari kejauhan.
Wah, bang ada tower, kayaknya itu daerahnya, kan disana ada sinyal.
Merasa sudah dekat, kamipun kembali bersemangat. Meskipun sudah ada anggota yang pusing gara-gara kondisi jalan yang tidak bersahabat.

****************************

Tapi ternyata oh ternyata, yang dekat hanyalah yang terlihat. Jalannya masih jauh, naik turun, melewati sungai. Entah sudah berapa sungai. Tower itupun hilang timbul tak sampai-sampai. Aku teringat saat aku mendaki ke puncak bogor membawa sepeda. Melihat mesjid At-ta’awun itu aku sudah sangat gembira. Karena sudah terlihat dekat
Tapi ya Allah, ternyata mesti harus mutar-mutar dulu....

****************************

Oke, alhamdulillah, sekitar jam 13.30, kami sudah sampai dilokasi.
Istirahat, sholat zuhur, makan sejenak dan acara pun dimulai.
Nah, sebelum pulang, tidak lupa
Kita makan durian duluuuuu
Supaya stresnya hilang, wkwkwkwk

****************************

Sekitar jam 16.00, kami sudah berjalan pulang ke Medan.
Yang bawa tetap saya.
Al Ustadz dipersilahkan untuk istirahat.

****************************

Perjalanan pun sangat aku nikmati,
Sangat bahagia bertemu dengan mereka para muallaf yang tinggal di ujung daerah, jauh dari kota, sulit akses, namun menyuguhi durian yang alamak sodapnya.
Tak lupa juga berfoto, sebagai kenang-kenangan kalau saya udah pernah kesana.


****************************

Oke, kemudian perjalanan kami terhalang sekitar 30 menit.
Pasalnya, didepan kami berjejer truk yang tidak bisa mendaki pada tikungan yang disertai tanjakan licin, karena baru turun hujan.
30 menit kemudian, setelah berkali-kali mencoba dan masih gagal.
Akhirnya giliran kami untuk naik,
Wah ternyata oh ternyata
Botul juga kata wak supir tu.
LICIN DEK



****************************

Walaupun begitu, aku hajar saja.
Meskipun berkali-kali meleset, namun digaskan saja sampai atas.
Toh yang dibawakan mobil ambulance dan ukurannya kecil.

****************************

Alhamdulillah, kami bisa melewati tanjakan licin tersebut, meskipun ada cedera sedikit pada badan mobil (sekiat 5 cm akibat gesekan dengan truk, jalannya sempit dan berjurang). Ditambah lagi bau ban akibat gesekannya dengan tanah.

****************************

Perjalananpun dilanjutkan, dan kami sampai di daerah Berastagi selepas isya. Istirahat sejenak dan makan malam, minum bandrek dan caw kembali.
Makananya enak, ya namanya udah lapar dan dingin ye kan?
Setelah sholat di musholla yang tidak jauh dari tempat makan tadi, kamipun pulang ke medan melewati jalan sibolangit.

****************************

Jam 10.10, kami sudah sampai di pancur batu.
Sekitar 45 menit lagi sudah sampai di Medan.
Namun karena udah ngantuk sekalee.
Saya meminta agar yang bawa mobil gantian.
Akhirnya, sayapun istirahat dan tidur sampai di Medan

Sekian, perjalanan liburan yang mengesankan.
Intinya, ingat!
Sekalipun sudah mengeluh terus, kalau untuk masyarakat dan berbagi kebaikan. HAJAR TERUSS

Thanks to My Lord, Allah
and good job for YBM BRI
Semarak Berbagi
Semangat BerIndonesia

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih.